Karya: Abi Fiza Ramadhan, SMPIT Arkan Cendekia
Di sebuah sudut kota Jakarta, di tengah suasana lalu lintas yang padat dan dikelilingi gedung-gedung tinggi, terdapat sebuah daerah bernama Kampung Rambutan. Kampung Rambutan merupakan daerah yang sangat ramai penduduk. Suasananya dipenuhi oleh suara obrolan, candaan, dan tawa dari anak-anak serta masyarakat sekitar. Pada sore hari, banyak anak berkumpul untuk bermain bola, layangan, dan permainan lainnya.
Suatu sore, seorang anak tampak duduk sendirian di tepi lapangan. Anak tersebut bernama Andi. Andi berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang pekerja toko, sedangkan ibunya seorang asisten rumah tangga. Andi adalah anak yang pemalu sehingga ia sering dikucilkan oleh teman-temannya. Ia hanya memiliki satu teman yang senantiasa menemaninya, yaitu Rizki.
Suatu hari, Andi mengajak Rizki untuk bermain bersama.
“Rizki, ayo main!” ajak Andi.
“Sebentar,” jawab Rizki.
Tak lama kemudian, Rizki pun keluar dari rumahnya. Mereka berdua berjalan menuju lapangan. Namun saat tiba di sana, Andi dan Rizki terkejut. Lapangan yang biasanya dipenuhi anak-anak kini mendadak sepi dan kosong. Mereka berdua terheran-heran melihat kondisi tersebut.
“Andi, kenapa lapangannya kosong?” tanya Rizki.
“Aku tidak tahu, Rizki,” jawab Andi.
Mereka pun berkeliling mencari teman-teman yang lain, tetapi tidak menemukan seorang pun.
“Di sini tidak ada orang, Andi,” ucap Rizki.
Andi membalas, “Kalau begitu, kita pulang saja.”
Akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Sesampainya di rumah, Andi bertemu dengan ayah dan ibunya. Andi pun bertanya kepada sang ayah, “Ayah, saat aku ke lapangan tadi, kenapa suasananya sepi sekali? Biasanya sangat ramai.”
Ayahnya membalas, “Ayah juga tidak tahu, Andi. Saat pulang tadi, Ayah juga merasakan hal yang sama.”
Setelah percakapan singkat itu, ibu Andi datang membawa makanan. Mereka semua pun makan malam bersama dalam suasana ruang makan yang hangat. Di tengah obrolan, Andi kembali berbicara kepada ibunya.
“Ibu, apakah Ibu merasakan suasana hening di kampung ini?” tanya Andi.
Ibu menjawab, “Iya, tadi saat membeli sayur, Ibu juga merasakan hal aneh. Semua orang tiba-tiba sibuk dengan telepon genggamnya.” Ayah ikut menyambung, “Sepertinya ini terjadi karena penggunaan telepon genggam yang makin marak. Ini semua adalah dampak modernisasi.”
Selesai makan, mereka berkumpul di ruang tamu. Ayah menyalakan televisi dan menonton berita. Pembawa berita sedang menyampaikan topik tentang serangan wabah digitalisasi di lingkungan masyarakat.
Sepertinya ini yang membuat lingkungan menjadi sepi, gumam Andi dalam hati.
Ia kemudian bertanya kepada ayahnya, “Ayah, kenapa modernisasi dapat mengubah suasana di lingkungan masyarakat? Dan kenapa semua orang sibuk dengan ponsel mereka?”
Ayah menjawab, “Jadi begini, Nak. Modernisasi membawa perkembangan teknologi. Namun, ketika teknologi muncul tanpa batasan, masyarakat bisa menjadi individualis dan hubungan sosial di sekitarnya pun berkurang.”
Karena hari makin malam, Ayah menyuruh Andi untuk beristirahat. “Sekarang sudah jam sembilan malam, Andi. Sebaiknya kamu tidur.”
“Iya, Ayah. Aku akan segera tidur,” ucap Andi seraya melangkah ke kamarnya.
Keesokan harinya, Andi pergi ke pasar bersama ibunya. Di pasar, ia kembali merasakan suasana sepi. Aneh sekali, biasanya pasar ini ramai. Mengapa sekarang sepi? gumam Andi.
Saat ibunya sedang memilih bahan masakan, sang ibu bertanya kepada penjual, “Pak, kenapa pasar sekarang sepi sekali? Biasanya setiap saya belanja selalu ramai.”
Penjual tersebut menjawab, “Iya, Bu. Kondisi pasar sekarang sedang sepi semenjak ada pasar online dan e-commerce. Pasar tradisional jadi sepi karena sekarang semua orang bisa belanja dari rumah menggunakan telepon genggam.”
Setelah selesai berbelanja, Ibu dan Andi pulang. Sesampainya di rumah, Andi berpikir keras mencari cara agar ia dapat menyelamatkan interaksi sosial di wilayah tempat tinggalnya. Andi mendapatkan ide untuk membeli telepon genggam. Menurutnya, media sosial di telepon genggam memiliki pengaruh besar untuk mengubah keadaan saat ini.
Ia pun memberanikan diri meminta kepada orang tuanya. “Ayah, Ibu, bisakah kalian membelikanku telepon genggam? Aku ingin mengubah keadaan lingkungan ini.”
Ayah membalas, “Ayah tidak sanggup, Andi. Uang Ayah tidak cukup jika dipakai untuk membeli telepon genggam.”
Andi kembali ke kamar dan berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang. Akhirnya, ia memutuskan untuk berjualan keripik buatan toko tempat ayahnya bekerja. Ia pun meminta izin terlebih dahulu.
“Ayah, bolehkah aku membantu menjual keripik dari toko Ayah?”
“Boleh saja, Nak. Memangnya uangnya mau dipakai untuk beli apa?” tanya Ayah.
“Uangnya mau aku kumpulkan untuk membeli telepon genggam, Yah,” jawab Andi.
Andi mulai berjualan di sekolah. Pada hari-hari pertama, beberapa teman sempat mengejeknya.
“Teman-teman, lihat Andi! Dia berjualan keripik sekarang. Dasar orang susah!” ejek salah satu temannya.
Andi memilih diam dan tetap berjualan. Tak lama, salah seorang teman lainnya mendekat dan penasaran. “Keripik apa ini, Andi? Bolehkah aku mencobanya?”
“Ini keripik singkong. Kalau mau, coba saja,” jawab Andi. Temannya mencicipi keripik tersebut dan matanya berbinar. “Wah, keripik singkongnya enak sekali! Teman-teman, kalian harus coba keripik singkong Andi!”
Anak-anak sekelas yang penasaran pun ikut mencicipi.
“Wah, ternyata benar! Keripik singkongmu enak sekali, Andi!”
Sejak hari itu, banyak teman yang membeli keripik Andi hingga habis tak tersisa. Bahkan, para guru pun ikut membeli. Andi menjalani usaha kecilnya ini selama beberapa bulan. Uang hasil jualannya selalu ia tabung.
Akhirnya, tabungan Andi terkumpul cukup banyak. Ia memberi tahu ayahnya dengan gembira, “Ayah, uangku sudah terkumpul untuk membeli telepon genggam. Bisakah Ayah mengantarku ke toko?”
“Bisa saja, Nak. Besok Ayah antar,” jawab sang ayah.
Keesokan harinya, Andi pergi ke toko ponsel bersama ayahnya. Sesampainya di sana, Andi bertanya kepada pegawai toko.
“Permisi, Kak. Apakah ada telepon genggam yang harganya sesuai dengan jumlah uang saya?”
Pegawai toko tersenyum dan bertanya, “Memangnya nominal uangmu ada berapa, Dik?”
“Jumlah uang saya ada Rp1.400.000, Kak,” jawab Andi.
“Sebentar ya, Saya carikan dulu,” ucap pegawai tersebut.
Pegawai toko menyodorkan ponsel yang harganya pas dengan anggaran Andi. Andi setuju dan membeli ponsel tersebut, lalu pulang bersama ayahnya.
Sesampainya di rumah, Andi mulai membuat video untuk diunggah ke media sosial. Ia ingin mengajak masyarakat kembali bersosialisasi secara langsung tanpa terus memandangi gawai masing-masing.
“Hai semuanya, perkenalkan nama saya Andi. Saya ingin mengingatkan kita semua tentang pentingnya bersosialisasi di era modernisasi ini. Apakah kalian sadar bahwa perkembangan teknologi membuat interaksi di sekitar kita berubah drastis? Oleh karena itu, mari kita hadapi modernisasi tanpa meninggalkan sosialisasi! Tolong bantu bagikan video ini ya, teman-teman!” ucap Andi dalam videonya.
Keesokan harinya, Andi terkejut saat melihat videonya viral hingga mendapatkan jutaan like dan komentar. Video tersebut menyadarkan banyak orang untuk kembali berinteraksi di lingkungan sekitar.
“Ayah, Ibu, lihat! Video yang aku buat di telepon genggam ini viral!” ucap Andi bangga.
Orang tua Andi memberikan pujian. “Kamu sangat luar biasa, Andi. Ayah dan Ibu tidak menyangka video yang kamu buat akan viral. Ayah bangga padamu, Nak.”
Di sekolah, Andi juga mendapat apresiasi dari teman-temannya. “Andi, lihatlah! Videomu ramai sekali di media sosial!”
“Aku juga terkejut saat melihat tanggapannya,” balas Andi.
Andi kemudian berniat melangkah lebih jauh. “Teman-teman, bagaimana kalau kita membentuk sebuah komunitas?”
“Komunitas apa, Andi? Apa tujuannya?” tanya salah satu temannya.
“Komunitas untuk menyadarkan masyarakat pentingnya bersosialisasi secara langsung,” jawab Andi.
Setibanya di rumah, Andi membuat unggahan di media sosial untuk merekrut anggota. Respons masyarakat sangat positif. Andi akhirnya mengumpulkan orang-orang tersebut dan menamai komunitasnya PSEM (Pejuang Sosialisasi di Era Modernisasi).
Dalam diskusi daring, Andi meminta masukan dari anggota komunitasnya. “Semuanya, mari kita buat kegiatan sosial bersama di tengah masyarakat. Apakah ada yang ingin memberikan usulan?”
Salah satu anggota mengusulkan ide, “Bagaimana kalau kita mengadakan acara menonton sepak bola bersama atau nobar?”
Andi dan anggota lainnya menyetujui gagasan tersebut. “Ide yang bagus! Kita beri nama kegiatannya NOBAR MASYARAKAT.”
Keesokan harinya di sekolah, Andi mengajak teman-temannya untuk menjadi panitia pelaksana. “Teman-teman, bisakah kalian membantuku mengadakan acara NOBAR MASYARAKAT?”
“Tentu saja, Andi. Kami siap mendukungmu!” jawab teman-temannya.
Andi merencanakan acara tersebut dengan matang. Ia memilih lokasi yang luas dan mudah dijangkau, seperti alun-alun, lapangan terbuka, serta kedai kopi lokal. Andi membagi tugas kepada anggota komunitasnya untuk menyebarkan kegiatan ini di berbagai titik.
Ketika hari pelaksanaan tiba, Andi menyampaikan sambutan pembuka kepada warga yang hadir.
“Selamat datang di acara NOBAR MASYARAKAT! Terima kasih kepada Bapak, Ibu, dan teman-teman yang telah meluangkan waktu. Semoga kegiatan ini dapat merekatkan kembali hubungan antartetangga. Mari kita mulai acara ini. Selamat menonton!”
Acara nobar berlangsung meriah dan dihadiri oleh warga dari berbagai kalangan usia, baik muda maupun tua. Andi dan timnya mendokumentasikan kegiatan tersebut lalu mengunggahnya ke media sosial. Postingan tersebut kembali mendapatkan respons yang sangat luar biasa hingga masuk ke tayangan berita televisi nasional.
Di sekolah, guru dan teman-teman Andi menyambutnya dengan bangga. “Andi, lihatlah! Kamu masuk berita di televisi!”
“Aku benar-benar tidak menyangka kegiatan sosial yang kita buat bisa mendapat perhatian sebesar ini,” balas Andi rendah hati.
Saat berjalan pulang dari sekolah, banyak warga menyapa nama Andi. Andi merasa bahagia melihat lingkungan tempat tinggalnya yang dulu sepi kini kembali hangat dan penuh kebersamaan.
Beberapa hari kemudian, Andi menerima pesan resmi berupa undangan untuk hadir sebagai narasumber di sebuah stasiun televisi di Jakarta Pusat.
“Ayah, Ibu, lihatlah! Aku mendapat undangan dari saluran televisi!” cetus Andi.
“Selamat ya, Nak. Ayah dan Ibu sangat bangga padamu,” puji sang ibu.
“Terima kasih, Ayah, Ibu. Aku berharap Ayah dan Ibu bisa mendampingiku di studio nanti,” tutur Andi.
“Tentu, Nak. Kami akan selalu mendampingimu,” sahut sang ayah.
Minggu depannya, Andi berangkat ke studio televisi didampingi kedua orang tuanya. Setelah bersiap-siap di ruang tunggu, acara pun dimulai. “Mari kita sambut tamu kita hari ini, seorang pemuda penggerak sosialisasi, Andi!” sambut pembawa acara.
Andi masuk dan duduk di panggung studio. Pembawa acara mulai mengajukan pertanyaan. “Selamat datang, Andi. Kenapa kamu bisa memiliki ide luar biasa ini?”
“Saya tergerak karena melihat lingkungan tempat tinggal saya menjadi sangat sepi akibat wabah digitalisasi. Oleh karena itu, saya berusaha mengembalikan suasana hangat di masyarakat melalui media sosial dan kegiatan komunitas,” jawab Andi tegas.
“Bagaimana cara kamu mengubah keadaan sosial di lingkunganmu hingga ramai kembali?” tanya pembawa acara lagi.
“Saya memanfaatkan media sosial untuk membangun kesadaran, lalu membentuk komunitas untuk merealisasikan kegiatan-kegiatan sosial secara langsung di lapangan,” jelas Andi.
Acara bincang-bincang tersebut berlangsung lancar selama dua jam. Ketika kembali ke kampung halaman, Andi disambut hangat oleh warga sekitar.
Tak berhenti di situ, dampak positif gerakan Andi terdengar hingga ke Istana Negara. Andi menerima undangan kehormatan untuk bertemu langsung dengan Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Agustus.
Andi menyampaikan kabar bahagia ini kepada orang tuanya. “Ayah, Ibu, aku mendapatkan undangan ke Istana Presiden!”
“Alhamdulillah! Selamat ya, Nak. Ayah dan Ibu sangat bahagia dan bangga,” ucap ayahnya penuh haru.
Menjelang hari keberangkatan, Andi meminta izin kepada pihak sekolah. “Assalamu’alaikum, Pak. Saya ingin memohon izin tidak masuk sekolah pada tanggal 5 Agustus karena mendapat undangan dari Bapak Presiden Joko Widodo ke Istana,” ujar Andi.
“Tentu, Nak. Kami bantu siapkan surat izinnya. Selamat dan terus berkarya!” jawab kepala sekolah dan para guru.
Pada tanggal 5 Agustus, Andi bangun pukul 04.00 pagi untuk bersiap-siap. Pukul 07.00 pagi, mobil jemputan resmi dari pihak kepresidenan tiba di rumahnya. Andi beserta kedua orang tuanya pun berangkat menuju Istana Presiden.
Setibanya di kawasan Istana pada pukul 09.00 pagi, Andi takjub melihat megahnya bangunan tersebut. Kedatangan Andi disambut hangat oleh Presiden Joko Widodo.
“Selamat datang, Andi. Saya senang sekali bisa bertemu dan mengundang kamu ke Istana,” sapa Presiden Joko Widodo.
“Saya juga sangat berterima kasih atas kesempatan luar biasa ini, Pak,” balas Andi.
Presiden mengajak Andi berkeliling area Istana sambil berdiskusi mengenai fenomena wabah digitalisasi.
“Saat ini masyarakat kita sedang diuji oleh wabah digitalisasi. Bagaimana cara kita agar tidak kehilangan aspek sosial dalam kehidupan bermasyarakat, Andi?” tanya Presiden.
“Saya dan komunitas akan terus berupaya menjaga ruang-ruang interaksi sosial itu tetap ada, Pak,” jawab Andi mantap.
Presiden mengangguk setuju, lalu bertanya lagi, “Mendekati peringatan 17 Agustus nanti, apakah ada rencana kegiatan baru?”
“Rencananya saya ingin mengadakan festival lomba 17 Agustus di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Pak,” terang Andi.
Ide tersebut mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Presiden.
Setelah pertemuan tersebut, Andi dan orang tuanya berpamitan untuk pulang.
Setibanya di rumah, Andi langsung mengadakan rapat daring via Zoom Meeting bersama anggota komunitasnya.
“Teman-teman, menyambut bulan Agustus ini, saya berniat mengadakan acara festival lomba 17 Agustus di area Stadion GBK,” papar Andi.
“Wah, itu ide yang sangat bagus! Bagaimana perizinannya, Andi?” tanya salah satu anggota.
“Perizinannya sudah diproses dan didukung. Sekarang kita perlu bekerja sama menyiapkan teknis acaranya,” jawab Andi.
Selama satu minggu, Andi dan tim komunitas bekerja keras mempersiapkan segala kebutuhan acara di lokasi. Pada tanggal 17 Agustus, masyarakat dari berbagai daerah berbondong-bondong memadati kawasan GBK.
Andi membuka acara dengan memberikan sambutan.
“Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh. Selamat datang di Festival 17 Agustus! Terima kasih atas antusiasme seluruh warga yang hadir. Acara ini diisi dengan berbagai jenis lomba tradisional seperti tarik tambang dan balap karung, serta bazar UMKM. Selamat berlomba dan mari kita erat persaudaraan!”
Kegiatan berlangsung meriah selama empat jam, mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB.
Dokumentasi acara yang diunggah Andi kembali tular (viral) dan mendapat respons amat positif di media sosial. Andi pun tumbuh menjadi figur muda yang menginspirasi banyak orang.
Berkat dedikasi dan prestasinya, Andi mendapatkan beasiswa pendidikan tinggi ke Malaysia dari Presiden Joko Widodo. Setelah menyelesaikan studinya di luar negeri, Andi kembali ke Indonesia untuk melanjutkan berbagai gerakan sosial demi menjaga kehangatan interaksi masyarakat di tengah gempuran arus digitalisasi.
Demikian kisah cerita ini. Semoga pesan dan manfaat dapat diambil secara baik oleh pembaca. Dan menjadi inspirasi bagi kita semua, agar senantiasa peduli, terhadap lingkungan sekitar kita. Akhirnya, cerita pun selesai.

