Oleh: Khalishah Hanindita, SMPIT Arkan Cendekia
Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menyalurkan kegemarannya. Termasuk Kiara Anindita, seseorang yang sangat mencintai dunia sastra dan salah satu siswi yang menjadi anggota Duta Literasi di sekolahnnya. Di sanalah ia menyalurkan kegemarannya terhadap sastra dan literasi.
Matahari bersinar lembut melewati jendela kamar. Kiara yang masih tertidur itu seketika terbangun saat mendapat notifikasi dari ponselnya, ia mengambil ponsel itu yang berada di nakas dan melihat pesan apa yang ia dapat, ternyata sebuah berita yang entah benar atau tidak dari grup keluarganya.
“Ini benar atau tidak, sih?” Kiara beranjak duduk di tepi ranjang dan mulai mencari informasi dari berita itu.
Namun, sebelum ia mendapat jawabannya pintu kamarnya sudah diketuk oleh seseorang. Kak Kiara, ayo siap-siap,” ucap seorang gadis dari balik pintu itu. Ayana Leeshia, adik dari Kiara yang hanya berbeda satu tahun dengannya.
“Iya, sebentar yah. Nanti kakak turun,” balas Kiara.
Kiara langsung menyiapkan semua kebutuhan sekolahnya, mulai dari pakaian, buku, dan peralatan lainnya. Setelah menyiapkan semua Kiara mulai turun kebawah untuk sarapan dan mengobrol bersama keluarganya. Tetapi ditengah obrolan hangat itu Ayana membuka obrolan tentang berita yang terkirim di grup keluarga mereka.
“Ma, Pa, berita tentang virus mematikan di tahun 2028 itu benar?” tanya Ayana sambil menyantap sarapannya.
“Harusnya sih benar, mamah dapat dari media sosial kok,” balas sang mama.
Detik kemudian Kiara mulai membuka suara masalah berita ini, “Ma, tapi kan semua yang ada di media sosial tidak sepenuhnya benar,” ucap Kiara.
Ucapannya itu pun disetujui oleh kakak Kiara, bernama Aksara Sabiru yang sedang berkuliah di salah satu universitas di bandung dengan jurusan informatika.
“Bisa aja berita hoax ma,” sahut Aksara.
“Masa sih? Beritanya kan udah tersebar luas,” balas mama.
Tiga kakak-adik itu hanya mengangguk, nyatanya mereka juga belum bisa memastikan berita itu benar atau tidak, jadi mereka tidak ada yang bisa menjelaskan dan hanya membalas dengan anggukan kecil.
Setelah menyelesaikan sarapan, Kiara dan Ayana bersiap untuk berangkat ke sekolah, sedangkan Aksara bersiap menuju kampusnya.
Saat Kiara sampai di sekolah, kodisinya masih aman dan kondusif, tidak ada yang membicarakan berita tentang virus mematikan tersebut. Sampai pada jam istirahat ke dua, saat makan siang Kiara mendapati teman-temannya heboh dengan berita virus mematikan di tahun 2028. Kiara yang bingung, memilih untuk menghampiri teman Duta Literasi-nya di kelas sebelah.
“Resha, kelasmu heboh sama berita tentang virus mematikan di tahun 2028 tidak?” tanya Kiara
“Iya, dari istirahat pertama, mereka selalu membahas itu,” jawab temannya. Nareesha Maharani, siswi yang sangat terkenal dengan karya puisi yang indah.
Kiara sempat terdiam, dahinya sedikit berkerut, tangannya menyilang di bawah dada. Kiara sedikit heran, mengapa berita ini bisa tersebar luaskan dengan sangat mudah?
“Hari ini kita ada rapat tidak?” tanya Kiara.
“Ada kok, untuk membicarakan konten bulanan Duta Literasi,” balas Nareesha.
Kiara mengangguk paham, seakan sedang merancang skenario di dalam kepalanya.
“Memang kenapa, Ra?” tanya Nareesha bingung.
“Nanti pas rapat, aku mau bahas masalah ini,”jawab Kiara.
Nareesha setuju dengan ucapan Kiara, ia takut jika berita itu semakin meluas dikalangan para siswa siswi bagaikan bola panas. Padahal belum tentu berita tersebut benar atau tidak. Kiara pun khawatir berita tersebut dapat menimbulkan kegaduhan di lingkungan sekolah.
Setelah membicarakan hal itu, Kiara memilih untuk kembali ke kelasnya dan melanjutkan jam pelajarannya sambil menunggu jam pulang sekolah tiba. Di sela-sela pelajaran, Kiara sedikit demi sedikit menuliskan beberapa poin yang akan dia sampaikan pada rapat nanti.
Jam yang sudah Kiara tunggu-tunggu itu akhirnya datang, semua anggota Duta Literasi berkumpul di perpustakaan sekolah dan siap membahas konten bulanan mereka. Dalam rapat, mereka, dua guru pustakawan dan satu guru penanggung jawab hadir untuk menemani rapat para Duta Literasi. Kiara pun sudah meminta izin terlebih dulu pada salah satu guru untuk membahas berita yang sedang ramai dibicarakan dimana-mana.
“Oh ya, Kiara tadi ingin bahas tentang apa?” tanya salah satu guru yang berperan sebagai pustakawan di sana.
“Jadi gini, aku mau membahas tentang berita yang lagi ramai.” Kiara menjelaskan terlebih dulu berita yang ia dapat dari para siswa-siswi, lalu menyampaikan kondisi sekolah mereka yang semakin tidak kondusif karena kepanikan siswa-siswi, dan juga berita ini yang begitu cepat menyebar di media sosial.
Selain membahas masalah yang sedang melanda sekolah dan beberapa masyarakat lain, Kiara dan Nareesha sepakat untuk menyampaikan masalah ini sebagai bahan konten mereka bulan ini. Dengan tema Saring Sebelum Sharing, berharap dengan mengangkat tema ini para murid dan masyarakat bisa lebih memilah informasi yang mereka dapat dengan lebih bijak.
Setelah berdiskusi beberapa lama, para Duta Literasi dan guru yang menemani setuju dengan saran Kiara dan Nareesha untuk mengangkat masalah tersebut menjadi konten bulan ini. Lalu dua Duta Literasi lainnya juga memberi saran mereka, yaitu Keenan Sadana dan Arka Javier, mereka menyarankan para Duta Literasi untuk mengisi materi di sekolah dan memberi pemahaman baru bagi siswa-siswi.
Saran Keenan dan Arka juga di setujui para guru. Mereka pun mulai menyusun tanggal dan materi apa saja yang akan di sampaikan nanti, termasuk menyediakan ruangan mana yang bisa mereka pakai nantinya. Namun, karena waktu sudah semakin sore, rapat ini pun harus disudahi terlebih dulu dan akan dilanjut kemudian hari. Para Duta Literasi dan guru-guru mulai meninggalkan ruang perpustakaan.
Kiara yang mengingat adiknya juga sedang rapat pun mencarinya di area parkir, ternyata adiknya selesai lebih dulu dan sudah menunggu Kiara di pinggir parkiran dengan wajah yang sedikit cemberut.
“Ayaaa,” panggil Kiara sambil berlari kecil mendekati adiknya.
“Maaf ya kakak lama, kamu disini dari kapan?” tanya Kiara berusaha untuk membuat adiknya tidak cemberut.
“Kayaknya 10 menitan ada …” jawab Ayana.
Kiara hanya mengangguk. “Aya, rapat kamu tadi bahas apa aja?” tanya Kiara membuka topik.
Ayana memutar sedikit tubuhnya dan memandang Kiara. Ayana mulai menceritakan rapatnya tadi yang tidak jauh dari pembahasan tentang berita virus 2028 yang sedang ramai di bahas, anggota OSIS pun juga kewalahan dengan berita yang membludak itu. Mendengar cerita Ayana, membuat Kiara ingin menyampaikan ide dari para Duta Literasi juga. Namun, hal itu ia tahan lebih dulu, dan akan ia obrolkan saat sudah di rumah dan bersantai.
Menit kemudian, terlihat sebuah mobil memasuki area parkir, Kiara dan Ayana yang hafal dengan mobil itu pun langsung menghampirinya. Benar saja, itu Aksara yang menjemput mereka. Kiara dan Ayana langsung menempati kursi belakang dan menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil, seakan energi mereka habis karena rapat tadi.
Saat sampai di rumah, Kiara tidak langsung menyampaikan pemikirannya, sampai malam semakin larut dan jam menunjukan pukul 8 malam. Saat itu lah Kiara membuka topik tentang masalah yang sedang ramai di perbincangkan, selain itu Kiara juga meminta bantuan Ayana untuk menjadi jembatan bagi sekolah dan para Duta Literasi. Ayana menyetujui ide kakaknya itu, dan itu juga harapan Ayana pada Duta Literasi untuk memberi pemahaman materi tentang masalah ini.
Selain itu, Aksara juga ikut serta membantu adik-adiknya dalam mencari tahu bagaimana informasi bisa tersebar luaskan dengan sangat cepat. Di malam inilah mereka saling bekerja sama, Ayana berdiskusi dengan teman-teman OSIS untuk mengadakan acara bagi para Duta Literasi. Kiara mulai mencari kebenaran berita itu dan meminta teman Duta lainnya juga menyiapkan materi pembahasan dan Aksara mencari informasi mengapa berita itu begitu cepat tersebar dengan menggunakan pemahamannya dari jurusan informatika.
***
Beberapa hari kemudian Ayana menyampaikan kepada Kiara bahwa sekolah sudah setuju dengan ide para Duta untuk membuat acara pemahaman tentang masalah ini. Dan Ayana juga menyampaikan bahwa acara ini bisa langsung di laksanakan minggu depan di aula sekolah mereka. Tanpa menunggu waktu lama, Kiara langsung menyampaikan informasi itu ke teman-temannya untuk mengadakan rapat kembali dan membahas apa saja yang akan mereka paparkan juga bagaimana pembagian tugas untuk menjelaskan materi, pembuka dan penutup acara nanti.
Hari-hari berikutnya Ayana dan Kiara masih disibukkan dengan persiapan acara yang akan mendatang karena ini bukan acara yang mudah, ini acara yang bisa dibilang dadakan dan mereka hanya mempunyai waktu persiapan satu minggu. Akhirnya hari-H acara itu tiba, para Duta Literasi sudah matang dengan materi mereka dan anggota OSIS pun sudah siap untuk membantu kelancaran acara ini.
Acara itu dimulai dengan pembukaan dari salah satu anggota OSIS.
“Hai semua, Saya Ayana Leeshia sebagai pembuka acara pada kesempatan kali ini. Di sini masih adakah yang langsung menyampaikan berita tanpa memeriksa keaslian berita tersebut?” tanya Ayana sekaligus membuka acara tersebut.
Para murid mulai saling pandang dan suara mereka memenuhi aula, setelah itu Ayana kembali menyampaikan kepada para siswa-siswi, “Jika ada yang masih menyampaikan suatu berita tanpa memeriksa keasliannya, mari kita izinkan kakak-kakak Duta Literasi untuk menyampaikan sedikit pembahasannya.” Ayana langsung menunjuk kepada Keenan. Dan Keenan pun memulai pembahasan mereka tentang apa itu media sosial dan bagaimana cara kerjanya agar kita lebih bijak berselancar menggunakan media sosial. “Seperti yang sudah diketahui banyak orang, media sosial adalah platform digital berbasis internet yang mudah untuk digunakan, mulai dari berinteraksi, berkomunikasi, membuat atau membagikan konten secara bebas tanpa dibatasi ruang dan waktu,” ucapnya.
Selesai menjelaskan itu, giliran Nareesha pun datang, Nareesha menjelaskan tentang apa itu berita Hoax dan apa dampaknya, “Berita Hoax atau yang sering kita dengar disebut berita bohong yang sengaja dibuat untuk menipu pembaca, memicu kepanikan, memecah belah masyarakat, dan menimbulkan konflik sosial lainnya”.
Lalu Arka mulai beranjak dan meraih mic untuk menjelaskan bagian selanjutnya, yaitu bagaimana berita hoax menyebar dan ciri-ciri berita hoax.
“Penyebaran berita hoax sudah dirancang untuk memicu emosi yang kuat, dan algoritma platform digital juga mendukung konten yang banyak diklik, membuat informasi palsu cepat viral sebelum diverifikasi. Ciri-ciri berita hoax, yaitu memakai judul yang heboh, berasal dari sumber yang tidak jelas, meminta pembaca untuk cepat menyebarkannya tanpa memeriksanya kembali, dan juga sering memakai foto atau video lama yang diedit ulang.”
Kemudian Kiara mulai menjelaskan bagiannya yang mencakup, cara menyaring berita dengan baik dan benar.
“Tahapan menyaring berita ini memiliki enam tahap, yang pertama cek sumber berita, pastikan nama media atau pengunggahan jelas dan dari web yang terpercaya. Kedua waspadai judul yang terlihat aneh, jangan langsung percaya dengan berita yang memiliki judul menyerang, karena itu adalah salah satu ciri berita hoax. Ketiga baca isi secara menyeluruh, jangan hanya melihat dari potongan teks, gambar, atau video singkat, karena bisa menyebabkan kesalahpahaman. Keempat bandingkan dengan berita lain, lakukan pengecekan silang atau cross-check ke beberapa media untuk mengetahui, apakah peristiwa tersebut juga dianggkat di media lain. Kelima periksa keaslian foto dan video, karena biasanya berita seperti itu sering memakai visual lama, dan mengunakan alat pencari gambar jika ragu dengan keaslian visual. Keenam saring sebelum sharing, tahan diri untuk tidak langsung menyebarkannya, pastikan berita itu benar dari sumber terpercaya,” ucapnya.
Setelah memaparkan hal itu Kiara sedikit mundur untuk memanggil teman-temannya sebagai penutup acara. Saat semua Duta Literasi sudah berdiri bersama, Keenan mengangkat mic-nya, “Kami harap setelah acara ini, teman-teman sekalian dapat memilah informasi dengan baik,”.
Kemudian Nareesha juga ikut mengangkat mic-nya, “Kami juga berharap kalian lebih berhati-hati dalam bermedia sosial. Karena tidak semua informasi yang terdapat di media sosial itu baik dan benar, contohnya berita hoax seperti ini.”
Selanjutnya, Kiara dan Arka menutup acara ini. “Sekian yang dapat kami paparkan pada pertemuan kali ini, kami dari Duta Literasi pamit undur diri.”
“Salam Literasi!” ucap mereka semua sambil mengangkat tangan dan membentuk huruf L dengan serempak.
***
Di sisi lain, Aksara bisa menyaksikan acara adiknya itu melewati beberapa siaran langsung dari media sosial sekolah mereka. Ia terbersit untuk melakukan hal yang sama di kampusnya.
Begitu sampai di rumah Ayana dan Kiara disambut gembira oleh Aksara. Laki-laki itu menunjukkan cuplikan vidio acara Kiara dan Ayana.
“Aku bangga sama kalian, sebagai Gen Z kalian berhasil untuk memberi pemahaman baru bagi masyarakat,” ucap Aksara bangga.
Ucapannya itu dibalas senyum senang di wajah adik-adiknya. “Itu tanggung jawab kami sebagai Duta Literasi dan anggota OSIS, yaitu meningkatkan minat baca dan menjadi teladan,” balas Kiara.
Kemudian Aksara meminta izin ke adik-adiknya untuk melakukan hal sama pada kampusnya. Tentu saja Kiara dan Ayana setuju untuk memberi izin tersebut.
Setelah itu Aksara benar-benar menyampaikan ide acara itu pada ketua BEM. Dan itu pun disetujui oleh pihak kampus. Selang beberapa minggu acara itu pun akhirnya terlaksana. Aksara pun dengan bangga menyebut dan menampilkan adik-adiknya sebagai motivatornya untuk mengajak masyarakan lebih berhati-hati dengan karya digital yang disalah gunakan.

